Sabtu, 16 Januari 2016

Sharing Sebuah Pengalaman Tentang Profesiku...



“Aku pengen sekali membangun perpustakaan sekolah di daerah asalku chiz” dia berkata padaku. Sontak aq menjawab “sebenarnya mbk, ketika kita nanti kita lulus kita dihadapkan pada dua jenis pilihan pekerjaan, kerja di perpustakaan yang sudah bagus dan keren atau kita memulai dari perpustakaan kecil lalu membangunnya, gak keren memang tapi sosialnya tinggi.”
“Kau pilih yang mana?” dia berkata lagi
“Aku pengen yang sosial, tapi gak mungkin mbak susah. Kalau kita ingin yang sosial dulu kita harus bekerja di tempat mapan dulu, nabung cari koneksi baru bisa bantu perpustakaan-perpustakaan kecil” jawabku.
Sebuah ingatan kecil tentang percakapan dengan seorang kakak angkatan ketika aku masih menjadi mahasiswa di jurusan ilmu informasi dan perpustakaan di salah satu universitas negeri di surabaya. Percakapan itu terjadi ketika kita sedang asyik membangun sebuah perpustakaan mini khusus untuk jurusan kami. Dia sebut saja namannya Anisa dan dia selalu memanggilku chiss tak tau kenapa tapi tak masalah bagiku. Kejadian itu terjadi sekitar ±7 tahun yang lalu dan mau tau setelah lulus kami memilih yang mana?



Dapat sangat di tebak, kami wisuda bareng dan profesi kita juga sama “Pustakawan”. Mbak anisa bekerja di salah satu perpustakaan perguruan tinggi negeri di Surabaya sedangkan aku bekerja di perpustakaan sekolah tinggi swasta di surabaya. Oke kita tinggalkan mbak Anisa dan mulai dengan ceritaku (hehehe,,,sedikit narsis yaa). J
Menjadi pustakawan bukanlah cita-citaku karena cita-citaku menjadi seorang guru TK, yes aku sangat ingin jadi guru TK. Namun ya perjalanan hidup, tetapi nothing special juga tentang jalan hidup saya ordinary lah, sampai saya benar-benar serius jadi pustakawan. Sejak saya kuliah di jurusan IIP bertemu dengan para dosen hebat dan teman-teman yang gak kalah hebat, saya merasa i find my way, yah maksudnya adalah saya tau setelah lulus saya jadi apa (wkwkwkwkwkwk...) but seriously saya benar-benar dapat banyak ilmu di sana meskipun yang saya rasakan bukan ilmu tentang perpustakaannya yang saya gandrungi tetapi ilmu manajemen dan ilmu sosial-nya yang sangat kental sekali, mungkin efek tidak semua dosen belum lulusan IIP ya.
Loncat yaa...
Lulus tahun 2009 saya langsung hunting kerja seperti lulusan pada umumnya. Alhamdulillah semua usaha membawa hasil, tak lama setelah wisuda ada panggilan dari salah satu sekolah tinggi swasta di Surabaya, saya test dan wawancara dan keterima bekerja di sana sampai sekarang dan Alhamdulillah jadi punggawa di Perpustakaan tersebut.
Bekerja di perpustakaan, alah mak jaang.... perpustakaannya jauh banget dengan kampus saya.
Pertama saya bingung harus melakukan apa, karena saya sejak awal diletakkan di bagian pengolahan koleksi dan ya staf disana kurang welcome awalnya dengan saya makanya saya sering dicuekkin. Membantu di pelayanan, Ya Tuhan, ampun masih manual padahal sudah ada 3 komputer nongkrong di meja sirkulasi. Sekali bantu, dilarang pula suruh balik kucing di ruangan pengolahan.
Seminggu nganggur, oke saya sudah tidak betah disini. Semua serba manual, mulai pengolahan, pelayanan, administrasi kurang rapi ruangan kerja amburadul tapi ada plusnya mahasiswa setiap masuk perpustakaan sudah menggunakan absen terkomputerisasi, sudah tersedia OPAC, sudah ada sistem automasi tapi khusus untuk entri data buku saja. Dan kelebihan lainnya adalah para staf yang mayoritas lulusan SMA hafal banget kalau selving buku dan kompak, dan satu lagi kelebihan istimewahnya jam istirahatnya ya ampun Tuhan break dan perpustakaan tutup selama 2 jam, saat itu saya bingung mau bilang apa sedih karena saya masih terbawa nuansa mahasiswa senang juga karena saya bisa internetan, hahahaha  (but honestly, saya sedih dengan jam istirahat yang sebegitu lamanya).
Dua minggu berjalan, saya mulai berfikir saya gak bisa menganggur seperti ini seperti orang magabut atau manusia 8 to 4. “I must do something” dalam hati saya berkata.  Banyak hal yang harus diperbaiki di perpustakaan ini dan sebagai pustakawan saya tidak boleh diam saja dan tidak boleh menunggu perintah. Dengan berbagai usaha mulai aktif mencari pekerjaa (salah satunya memperbaiki buku rusak), memberi masukkan kepada atasan, diskusi dengan para senior,  mulai analisa kesana kemari, diskusi dengan the only one pustakawan senior disana dan banyak informasi yang saya peroleh. Melakukan pengembangan untuk suatu perpustakaan yang sudah beridiri dan ketika kita masih berstatuskan staf baru itu adalah pengalaman luar biasa dan tentulah tidak semudah seperti yang di angan dan tak semudah teori yang dijelaskan oleh dosen kita, semua perlu trik-trik tertentu agar tujuan kita tercapai. Triknya apa...ada deh (next chapter).
Menjadi pustakawan tentunya juga mengalami godaan, godaan untuk pindah ke tempat yang lebih baik. Ada beberapa panggilan mulai menggoda saya mulai dari perpustakaan almamater, perpustakaan swasta, sampai BUMN. Namun apalah daya, saya sudah memantapkan hati bahwa saya harus bisa membuat Perpustakaan tempat saya bekerja ini menjadi perpustakaan yang besar suatu saat nanti.
Alhamdulillah, Allah itu Baik Hati. Katika semua godaan berhasil ditaklukkan yang terjadi adalah saya mendapatkan banyak pengalaman baik dalam hal ilmu, pengetahuan, informasi, networking dan yang paling seru jalan-jalan untuk kepentingan seminar dan pelatihan. Saya tidak pernah berfikir bahwa menjadi pustakawan akan memberikan dampak yang luar biasa buat hidup saya. Dari organisasi internal saya mulai sering berdiskusi dengan kepala perpustakaan saat itu dan beliau sangat care dengan semua masukkan saya namun semua kebijakan saya kembalikan ke beliau dengan penyesuaian kondisi. Saya juga sering melakukan negosiasi dengan para petinggi yang lain dan juga sering berkomunikasi dengan para dosen. Kekurangan saya adalah saya kurang terlibat dalam hal pelayanan kepada mahasiswa, karena memang fokus saya adalah pembenahan pada manajemen koleksi, ya terlalu teknis mungkin karena saya lebih sering melakukan pekerjaan teknis sehingga sangat jarang memberikan pelayanan kepada mahasiswa. Tetapi bukan berarti saya tidak pernah memberikan pelayanan loh ya..saya pernah namun jika dibandingkan dengan pengolahan teknis 70 : 30. Saya kerap membantu mahasiswa dalam mencari buku, mulai dengan pencarian di OPAC sampai ketemu bukunya, atau terkadang saya sering memberikan bantuan kepada mahasiswa secara sembunyi-sembunyi dikarenakan tidak seusia prosedur hal ini saya laukan karena saya menganggap bahwa peraturan yang ada sangat tidak user oriented sekali. Salah satu contohnya adalah memberikan layanan sirkulasi padahal harusnya sudah tutup atau memperbolehkan mahasiswa meminjam buku yang baru saja dikembalikan namun belum dilakukan selving ke raknya, hihihi...maaf!
Di luar organisasi, saya sering diikut sertakan dalam berbagai kegiatan seminar dan pelatihan baik itu di dalam maupun luar kota. Pengalaman seminar paling jauh yaitu seminar ke Bali. Saya Cuma berfikir waktu itu, Jadi pustakawan aja kamu bisa jalan-jalan ke bali karena acara seminar naik pesawat biaya ditanggung kantor lagi. So, kalau kamu berfikir profesi pustakawan itu tidak hebat dan berkelas apalah saya dan bahkan ada yang berhasil ke luar negeri (luar negeri masih impian saya tapi wajib gratis,hihihihi). Pengalaman berharga jadi pustakawan lagi adaah ketika kita diikutsertakan dalam Lomba dan kita berhasil menjadi pemenang, rasa bangganya sangat luar biasa. Ternyata profesi pustakawan juga keren seperti profesi yang lainnya sampai ada lombanya dan kegiatan ilmiah seperti call for papers. Maaf ya sombong dikit, saya pernah menjadi juara 3 pustakawan berprestasi tingkat Kopertis di wilayah saya 2 kali, tidak masalah meskipun  bukan tingkat nasional bangganya itu di tempat kerja dimana yang ikut lomba dan juara adalah bagian perpustakaan dimana perpustakaan di kantor saya dianggap tempat berkumpulnya orang bermasalah. Pengalaman di luar oragnisasi yang lain adalah networking dan menjadi pengurus di Forum Perpustakaan Tinggi. Bertemu dengan sesama pustakawan dan staf perpustakaan dari perguruan tinggi lain menurut saya sangat besar manfaatnya, karena pada kesempatan tersebut biasanya kita gunakan untuk sharing dan memberi masukkan bahkan sangat membantu kita dikala butuh bantuan.
Perpustakaan saya saat ini mengalami banyak perubahan berkat apa yang sudah saya peroleh dari berbagai pengalaman. Saya tidak pernah menyadari bahwa profesi yang sering dianggap sebelah mata ternyata memiliki segudang potensi dan manfaat bagi yang bisa memahami dan mencintai profesi ini. Ketika kita memilih untuk menjadi seorang pustakawan maka kita harus berkomitmen bahwa pustakawan adalah pekerja sosial bukan komersil, jadi semua pekerjaan harus dilakukan dari hati. Awalnya saya malu karena selalu dianggap sebagai tukang jaga buku, namun setelah setahun saya mulai sadar bahwa ini adalah profesi saya dan saya harus bangga karena profesi pustakawan adalah profesi yang “halal”. Banyak sekali orang-orang hebat yang berprofesi sebagai pustakawan.
Aku tidak menyesal dengan profesiku sekarang dan dengan tempat kerjaku saat ini. Setelah apa yang raih dengan profesiku dan dengan perpustakaanku apakah aku akan berhenti sekarang dan duduk diam, tidak! Profesiku “Pustakawan” bukanlah profesi yang ketika dia sukses dia kemudian akan santai dan diam meliat kesuksesannya, profesi ku menuntut lebih, untuk menjadi lebih baik, untuk memberikan yang terbaik. Life long learning menjadi kewajiban bagi Pustakawan. Cerdas dan sosial adalah sifat dasar untuk menjadi seorang pustakawan.

2 komentar: