Kamis, 28 Januari 2016

Review Film You’ve Got Mail
Ketika Email sebagai Media Komunikasi Membangun Hubungan

I.                   Pendahuluan
Kehadiran internet tidak disangkal lagi telah membawa revolusi pada cara manusia melakukan komunikasi. Dengan internet, kendala  ruang atau jarak dalam berkomunikasi telah banyak di atasi. Sebelumnya dengan fasilitas yang ada sebenarnya kita sudah bisa mengatasi jarak. Telepon, sebagai contoh, adalah fasilitas yang memungkinkan kita berkomunikasi ke mana saja di dunia ini. Akan tetapi kenyataan bahwa pulsa telpon interlokal atau internasional sangat mahal akhirnya menjadikan fasilitas tersebut tidak optimal digunakan. Dengan kata lain, segala sesuatu yang muncul sebagai efek dari komunikasi melaluinya hanya tinggal sebagai potensi saja. Dengan adanya internet, manusia dihadapkan pada sebuah kemungkinan di mana komunikasi ke mana saja dengan biaya murah dapat diselenggarakan. Kemungkinan yang dapat timbul sebagai akibatnya tentu bisa sangat luas.
Salah satu layanan komunikasi melalui internet adalah email, atau electronic-mail. Yang kita lakukan bila kita berkomunikasi menggunakan e-mail adalah mengetikkan pesan yang akan kita kirim pada program komputer yang dikhususkan untuk keperluan ini (email client), seperti Outlook Express, Netscape Communicator, Eudora, Pegasus, dan lain-lain. Kemudian pesan yang telah selesai disusun kita kirimkan, setelah sebelumnya kita menghubungkan komputer kita dengan internet. Biasanya bersamaan dengan mengirim, kita juga sekaligus mengecek apakah ada pesan yang ditujukan ke alamat kita. Setelah itu kita bisa memutuskan hubungan dengan internet. Bila kita telah terampil mengoperasikan program email yang digunakan, proses tadi dapat berlangsung sangat cepat. Alhasil kita dapat melakukan penghematan pulsa telpon.
Efek pengiriman dan penerimaan e-mail ternyata berjalan sangat cepat dan efisien, akhirnya orang berpikir untuk mencari berbagai kemungkinan komunikasi yang bisa dikembangkan melalui medium ini, seperti apa yang disebut dengan distribution list, dan discussion list. Bahkan di antara mereka yang sering menggunakan email telah berkembang konvensi-konvensi pergaulan tertentu, yang sangat penting untuk diketahui oleh para pemula, seperti netiquette, smiley / emoticon, avatar / nickname, dan sebagainya. Akhirnya dengan semakin canggihnya program email yang digunakan, semakin terbuka pula kemungkinan yang lebih luas. Dewasa ini semua email clients mampu menyertakan file pada email yang dikirimkan, sebagai attachment / lampiran. Ini berarti yang dikirimkan oleh email bukan hanya tulisan, tapi bisa juga  suara, gambar, bahkan gambar bergerak.
Film You’ve Got Mail bercerita tentang dua orang, laki-laki dan perempuan, yang membangun pertemanan di dunia maya melalui surat elektronik. Keduanya saling bertukar kisah kehidupan kesehariannya, tapi tak saling mengenal. Diam-diam, kedua orang ini saling jatuh cinta lewat surat-surat elektronik yang  mereka kirimkan. Tapi, jatuh cinta pada orang yang kita tidak tahu siapa,  bukankah itu gila?
Cerita tidak berhenti sampai disitu. Nasib mempertemukan mereka di dunia nyata. Namun sayang, bukan pertemuan yang menyenangkan. Bertemu sebagai orang-orang yang bersaing dalam bisnis penjualan buku membuat mereka terlibat dalam perang. Dan mereka saling bermusuhan, di dunia nyata. Sekaligus saling mengagumi, di dunia maya. Saling kenal, tapi tak saling tahu. Mengapa seseorang yang sama bisa memiliki impresi berbeda didua dunia, dunia nyata dan dunia maya?
Tahun 1998, walaupun belum secanggih sekarang, internet tentu saja sudah marak di Amerika. Film ini menjadi penanda bahwa teknologi internet mengubah gaya interaksi manusia, termasuk dalam hal cinta. Dalam dunia konvensional, kita jatuh cinta pada orang-orang yang kita kenal secara literal, kita lihat wajahnya, kita dengar suaranya, dan tersentuh oleh perilakunya. Namun ternyata, kita juga bisa jatuh cinta melalui deretan kata-kata yang dituliskan. Tanpa mengenal siapa yang menulis, seperti apa wajahnya, seperti apa perilakunya, tak tahu warna suaranya, dan apakah dia sudah menikah atau belum. Inilah yang terjadi pada Joe Fox dan Kathleen Kelly pada masa awal berkembangnya internet.
Bertahun-tahun setelah film You’ve Got Mail hadir, ada sekian banyak pasangan yang akhirnya menikah karena bertemu di dunia maya (aku salah satunya, hehe). Saat ini, surat elektronik bukan lagi satu-satunya media komunikasi di internet. Kita mengenal Facebook, Twitter, Blog dan berbagai sosial media lainnya yang memungkinkan kita berbagi informasi lebih tentang diri kita. Facebook bahkan seolah ingin “memindahkan” kehidupan nyata kita kedalam dunia maya.
Jika Joe Fox dan Kathleen Kelly bertemu pada jaman teknologi internet secanggih sekarang, apakah kisah mereka akan berakhir indah di Riverside Park?  Joe Fox mungkin tidak perlu meminta temannya untuk mengintip siapa yang sedang menunggunya di kafe. Kathleen mungkin akan lebih cepat menyadari siapa Joe Fox.
Apapun itu, You’ve Got Mail yang memotret fenomena interaksi manusia dimasa awal berkembangnya  teknologi internet memberitahu kita satu hal ini: sejak awal, memang niscaya cinta bersemi di dunia maya


II.     Analisis dan Diskusi
Perkembangan teknologi menjadi begitu pesat sejak jaman revolusi industri, dari analog ke mekanik dan pada akhirnya ke digital. Digitalisasi berkaitan erat dengan komputerisasi, sejak komputer pertama kali ditemukan pada tahun 1941 oleh Konrad Zuse- Z3, ia menjadi alat bantu manusia dalam mengkalkulasi, melibatkan interaksi satu arah antara manusia dengan komputer sebagai mesin penghitung[1].
Tujuh puluh tahun setelahnya seiring  dengan bentuknya, komputer menjadi semakin kecil dan compact, interaksi manusia dengan komputer juga semakin dinamis, tidak lagi satu arah melainkan banyak arah. Komputer sudah bukan lagi mesin biasa tetapi dia adalah artificial intelegent yang pada saat kita berinteraksi dengannya dia menjadi environment baru. Environment tersebut di respon sebagai atmosfer yang berbeda oleh otak kita. Atmosfer komputer ini adalah dunia yang positif, yang negatif, yang jujur, yang palsu, yang beroposisi dapat melebur jadi satu, sangat kaya informasi hingga menjadi polusi[2].
Dunia yang terpolusi ini adalah tempat dimana manusia saling berinteraksi secara virtual mempertukarkan tanda-tanda tanpa makna, kemasan dari pada isi, instan daripada esensi. Tanda-tanda palsu (pseudo sign) meluncur bebas sebagai informasi yang menjelma menjadi tontonan yang indah-indah, yang bagus, yang ‘seharus’-nya, dan yang ‘benar’. Tontonan menjadi komoditi yang laris manis diantara masyarakat posmodern, seperti candu ia harus terus menerus dikonsumsi. 
Dalam film You’ve Got Mail, kemajuan internet dan interaksi dunia virtual belum sehebat seperti sekarang. Jika dalam film tersebut, pengguna internet hanya berinteraksi lewat tulisan dimana dapat menimbulkan suatu rasa tersendiri bagi kedua insan yang melakukan hubungan melalui email tersebut. Si wanita Kathleen ketika bercerita kepada temannya tentang hubungan lewat email yang ia jalankan dia menganggap bahwa dia tidak merasa melakukan perselingkuhan karena hubungan hanya sebatas kirim surat lewat email dan tidak ada sentuhan fisik, pandangan mata dan sebagainya. Namun kegiatan itu ia lakukan secara intens dan ketika dia bermain email (chating) dia selalu sendirian dan menunggu pasangannya sampai pergi ke kantor atau saat pacarnya sedang tidak di rumah dan ketika pacarnya datang maka dengan sigap ia akan menutup laptopnya.
Ketika kathleen melakukan chatting dengan Joe (dengan menggunakan nickname masing-masing) dapat dilihat dari beberapa mimik wajah mereka, mulai dari tidak sabaran ketika login dan cek inbox, dengan penasaran membuka surat yang baru dikirim, tertawa sendiri hanya karena membaca tulisan yang ada pada layar laptop dan akan dengan serius serta percaya menceritakan permasalahan hidup yang sedang dihadapi dan memberikan solusi. Kita juga dapat melihat bagaiman kathleen melakukan saran yang diberikan joe untuk mengatasi tokonya yang sedang bangkrut padahal mereka hanya kenal melalui email.
Kebutuhan manusia dengan teknologi digital telah membawa peradaban manusia ke tingkat yang mutakhir. Di era posmodern ini manusia telah meninggalkan mekanik jaman modern yang terstruktur dan empiris, menggantinya dengan mesin intelejensia yang memproduksi ruang virtual, realitas baru. Hal ini sejalan dengan Barthes yang menganggap bahwa posmodern telah menghasilkan spesies baru tanda, sebuah tanda yang adalah tanda itu sendiri , tanda yang didalamnya petanda tidak berlaku. Tanda ini melampaui tanda yang semestinya, ia adalah hypersig[3].
Ruang realitas dan ruang virtual melebur dan menghasilkan pengalaman tubuh, pikiran dan jiwa. Menurut Freud pengalaman tersebut disebabkan oleh 10 % kesadaran dan 90% ketidak sadaran didalam otak kita. Artinya pada saat anda masuk ke ruang virtual, di bawah sadar ada yang membuai anda untuk hanyut  kedalamnya[4]. Secara tubuh anda memang berada diruang realitas tetapi pikiran dan jiwa anda sedang berpergian ke ruang virtual atau seperti ‘tamasya’. Menurut Piliang[5], berlibur dari tekanan realita. Bermain bebas tanpa ada yang mengatur, menikmati pemandangan (tontonan), dan merayakan kebanalan tanpa perlu lelah memikirkan esensi adalah aura dari ruang virtual (aura of virtual) yang terus menerus membuai. Mata anda tidak berhenti menatap layar karena ada ekstasi tontonan didalamnya, ada voyareism: keindahan yang memuaskan hasrat; voracius: rakus; visceral:menjadi satu tubuh sehingga anda high dan tidak bisa membedakan lagi virtual dengan realitas.
Dalam film You’ve Got Mail dapat digambarkan bagaimana kehidupan Joe dan Kathleen secara pribadi lebih mereka nikmati ketika mereka berada di alam virtual, padahal mereka sendiri telah memiliki pasangan masing-masing. Ketika bersama dengan pasangan mereka, memang mereka tidak saling memikirkan satu sama lain, namun dalam fim ini terlihat bahwa bagaiman sosialisasi secara virtual dapat berakibat pada lingkungan nyata kita. Pada film ini digambarkan bagaimana joe yang kurang memahami sang kekasihnya sehingga suatu hari dia menyadari bahwa kekasihnya lebih sibuk memikirkan karirnya sendiri daripada Joe meskipun mereka saling mencintai. Lalu bagaiman dengan kathleen, kathleen pun demikian setelah bermain email dengan joe dia merasa bersalah dan terjadi sesuatu dengan hubungannya sampai akhirnya pacarnya memutuskan dia karena dia telah jatuh hati dengan wanita lain. Kathleen pun tidak merasa sakit hati karena dia juga sudah jatuh hati pada Joe di dunia maya. Hal ini menggambarkan bahwa dunia virtual telah membuat orang yang secara nyata di hadapan kita menjauh karena kurangnya komunikasi, sedangkan kita lebih nyaman dan asyik berkomunikasi secara intens dengan orang yang belum kita kenal secara nyata. Kita lebih memilih terlena di alam virtual karena kita beranggapan selalu happy ending.
Melalui film ini kita dapat menggologkan jenis aliran cyberspace oleh Mark Slouka yaitu destopian, neo-futuris dan teknorealis. Dalam film ini memang awalnya sangat mengidolakan kecanggihan internet dimana orang dapat dibuat lupa dengan dunia realitanya ketika dia berada di ruang internet. Tetapi dikarenakan pada saat itu internet belum booming seperti sekarang belum secanggih seperti saat ini dan pada film itu digambarkan pula bagaimana masyarakat sekitar ada yang tidak percaya akan internet dan alergi dengan teknologi seperti yang digambarkan oleh kekasih kathleen dimana dia sangat mencintai mesin ketiknya dan menganggap bunyi mesin ketik adalah suara nan merdu dan menyingkirkan laptop milik kathleen. Ada juga teman kathleen yang merasa takut tapi penasaran dengan internet, dia merasa bahwa internet adalah sesuatu yang palsu tapi menyenangkan untuk di coba tetapi dia memilih dan meminta kathleen utnuk berhati-hati, selain itu ada teman joe yang merasa risih dengan cerita joe tentang teman internetnya dimana dia mengatakan bahwa apapun yang ada di internet adalah kebohongan. Namun mereka berdua tetap tidak berpengaruh dan tetap berkirim surat melalui email.
Lalu masuk dalam jenis apa mereka yaitu kathleen dan joe dalam film ini ? menurut saya dan beberapa kali menonton film maka mereka berdua tergolong pada jenis teknorealis yaitu berada di tengah-tangah. Alasannya adalah meskipun mereka secara intens melakukan komunikasi melalui email dan berjanji tidak akan lebih intim akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu, meskipun pada akhirnya hanya Joe yang mengetahui identitas sebenarnya teman chatingnya yaitu kathleen. Meskipun sudah tau siapa teman maya-nya Joe masih tetap mengirimkan email kepada kathleen dan juga melakukan pendekatan intens dan akhirnya mengajak bertemu lagi. Meskipun kathleen merasa kecewa karena teman maya-nya tidak hadir pada pertemuan awal dia tetap memberikan kesempatan untuk bertemu lagi. Karena kathleen merasa sudah jatuh hati dengan teman dunia maya-nya yang tak lain adalah Joe. Tapi bagi kathleen dia harus menemui pria yang telah membuatnya jatuh cinta untuk menyakinkan dirinya bahwa yang terjadi pada dirinya adalah nyata.

III.             Kesimpulan
Kecanggihan teknologi informasi dan hadirnya internet telah membawa dampak tersendiri bagi masyarakat di dunia. Perubahan cara berkomunikasi telah berubah secara drastis, dimana kegiatan sosialisasi dan membangun sebuah hubungan tidak lagi harus melalui bertemu dengan tatap muka, tetapi cukup dengan berkomunikasi dengan internet.
Di dalam internet, dalam dunia maya batas-batas akan kehidupan seakan tidak diindahkan oleh masyarakat pengguna, mereka seakan terlena oleh pandangan-pandangan magis yang ditawarkan oleh internet. Dalam film tersbut digambarkan bagaiman dunia internet telah menjauhkan yang dekat dan yang nyata sedangkan kita lebih asyik mendekatkan yang jauh melalui komunikasi intens melalui alat yang disebut dengan internet. Bagaiman seorang kathleen dengan polosnya jatuh hati pada orang yang belum dikenal sama sekali dan belum pernah di temuinya sama sekali dan hanya lewat kata-kata kathleen jatuh hati kepada joe. Ketika mereka bertemu di taman sesuai dengan tempat yang dijanjikan betapa bahagia kathleen ketika pria yang membuat jatuh hati lewat kata-kata adalah Joe, seseorang yang dulunya sangat dibencinya di dunia nyata karena membuat bangkrut bisnisnya tetapi juga yang mulai mendekatinya ketika dia putus dari kekasihya. Happy ending story, jika pria di internet itu bukan joe, apakah kathleen akan tetap percaya akan cintanya? Menurut saya rasa tidak tapi who knows karena hati tak bisa di tebak.



Daftar Pustaka

The Invention of Email. 1998. Pretex Magazine. Tersedia di http://socrates.berkeley.edu/~scotch/innovation/inventing_email.pdf di akses pada tanggal 11 Januari 2016

Hadi, Astar. 2005. Matinya dunia cyberspace: kritik humanis Mark Slouka terhadap jagat maya. Yogyakarta : LKiS Tersedia di https://books.google.co.id/books?id=ZtwzkhXbKF0C&pg=PA140&lpg=PA140&dq=cyberspace+mark+slouka&sourcedi akses pada tanggal 11 Januari 2016

Wellman, Barry, Gulia, Milena. 1997. Net Surfers Don’t Ride Alone : Virtual Communities As Communities. Canada : University of Toronto, Department of Sociology and Centre for Urban And Community Studies. Tersedia di  http://groups.chass.utoronto.ca/netlab/wp-content/uploads/2012/05/Net-Surfers-Dont-Ride-Alone-Virtual-Community-as-Community.pdfdi akses pada tanggal 11 Januari 2016

O'Regan, G. (2012). A Brief History of Computing. New York: Springer.

Heim, M. (1993). The Metaphysics of Virtual Reality. New York: Oxford University Press.

Piliang, A. Y. (2012). Semiotika dan Hipersemiotika. Bandung: Matahari.

Westerink, H. (2009). A Dark Trace: Sigmund Freud on the Sence of Guilt. Leuven: Leuven University Press.





[1] O'Regan, G. (2012). A Brief History of Computing. New York: Springer.
[2] Heim, M. (1993). The Metaphysics of Virtual Reality. New York: Oxford University Press.
[3]  Piliang, A. Y. (2012). Semiotika dan Hipersemiotika. Bandung: Matahari.
[4] Westerink, H. (2009). A Dark Trace: Sigmund Freud on the Sence of Guilt. Leuven: Leuven University Press.
[5]  Piliang, Y. A. (2011). Ekonomi Virtual dan Masyarakat Cyber:Menuju Milenium Ketiga. In Y. A. Piliang,
Dunia yang Dilipat (pp. 110-114). Bandung: Jalasutra.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar