Review
Film You’ve Got Mail
Ketika
Email sebagai Media Komunikasi Membangun Hubungan
I.
Pendahuluan
Kehadiran
internet tidak disangkal lagi telah membawa revolusi pada cara manusia
melakukan komunikasi. Dengan internet, kendala
ruang atau jarak dalam berkomunikasi telah banyak di atasi. Sebelumnya
dengan fasilitas yang ada sebenarnya kita sudah bisa mengatasi jarak. Telepon,
sebagai contoh, adalah fasilitas yang memungkinkan kita berkomunikasi ke mana
saja di dunia ini. Akan tetapi kenyataan bahwa pulsa telpon interlokal atau
internasional sangat mahal akhirnya menjadikan fasilitas tersebut tidak optimal
digunakan. Dengan kata lain, segala sesuatu yang muncul sebagai efek dari
komunikasi melaluinya hanya tinggal sebagai potensi saja. Dengan adanya
internet, manusia dihadapkan pada sebuah kemungkinan di mana komunikasi ke mana
saja dengan biaya murah dapat diselenggarakan. Kemungkinan yang dapat timbul
sebagai akibatnya tentu bisa sangat luas.
Salah
satu layanan komunikasi melalui internet adalah email, atau electronic-mail.
Yang kita lakukan bila kita berkomunikasi menggunakan e-mail adalah mengetikkan
pesan yang akan kita kirim pada program komputer yang dikhususkan untuk
keperluan ini (email client), seperti Outlook Express, Netscape Communicator,
Eudora, Pegasus, dan lain-lain. Kemudian pesan yang telah selesai disusun kita
kirimkan, setelah sebelumnya kita menghubungkan komputer kita dengan internet.
Biasanya bersamaan dengan mengirim, kita juga sekaligus mengecek apakah ada
pesan yang ditujukan ke alamat kita. Setelah itu kita bisa memutuskan hubungan
dengan internet. Bila kita telah terampil mengoperasikan program email yang
digunakan, proses tadi dapat berlangsung sangat cepat. Alhasil kita dapat
melakukan penghematan pulsa telpon.
Efek
pengiriman dan penerimaan e-mail ternyata berjalan sangat cepat dan efisien,
akhirnya orang berpikir untuk mencari berbagai kemungkinan komunikasi yang bisa
dikembangkan melalui medium ini, seperti apa yang disebut dengan distribution
list, dan discussion list. Bahkan di antara mereka yang sering
menggunakan email telah berkembang konvensi-konvensi pergaulan tertentu, yang
sangat penting untuk diketahui oleh para pemula, seperti netiquette, smiley
/ emoticon, avatar / nickname, dan sebagainya. Akhirnya
dengan semakin canggihnya program email yang digunakan, semakin terbuka pula
kemungkinan yang lebih luas. Dewasa ini semua email clients mampu
menyertakan file pada email yang dikirimkan, sebagai attachment /
lampiran. Ini berarti yang dikirimkan oleh email bukan hanya tulisan, tapi bisa
juga suara, gambar, bahkan gambar
bergerak.
Film
You’ve Got Mail bercerita tentang dua orang, laki-laki dan perempuan, yang
membangun pertemanan di dunia maya melalui surat elektronik. Keduanya saling
bertukar kisah kehidupan kesehariannya, tapi tak saling mengenal. Diam-diam,
kedua orang ini saling jatuh cinta lewat surat-surat elektronik yang
mereka kirimkan. Tapi, jatuh cinta pada orang yang kita tidak tahu siapa,
bukankah itu gila?
Cerita
tidak berhenti sampai disitu. Nasib mempertemukan mereka di dunia nyata. Namun
sayang, bukan pertemuan yang menyenangkan. Bertemu sebagai orang-orang yang
bersaing dalam bisnis penjualan buku membuat mereka terlibat dalam perang. Dan
mereka saling bermusuhan, di dunia nyata. Sekaligus saling mengagumi, di dunia
maya. Saling kenal, tapi tak saling tahu. Mengapa seseorang yang sama bisa
memiliki impresi berbeda didua dunia, dunia nyata dan dunia maya?
Tahun
1998, walaupun belum secanggih sekarang, internet tentu saja sudah marak di
Amerika. Film ini menjadi penanda bahwa teknologi internet mengubah gaya
interaksi manusia, termasuk dalam hal cinta. Dalam dunia konvensional, kita
jatuh cinta pada orang-orang yang kita kenal secara literal, kita lihat
wajahnya, kita dengar suaranya, dan tersentuh oleh perilakunya. Namun ternyata,
kita juga bisa jatuh cinta melalui deretan kata-kata yang dituliskan. Tanpa
mengenal siapa yang menulis, seperti apa wajahnya, seperti apa perilakunya, tak
tahu warna suaranya, dan apakah dia sudah menikah atau belum. Inilah yang
terjadi pada Joe Fox dan Kathleen Kelly pada masa awal berkembangnya internet.
Bertahun-tahun
setelah film You’ve Got Mail hadir, ada sekian banyak pasangan yang akhirnya
menikah karena bertemu di dunia maya (aku salah satunya, hehe). Saat ini,
surat elektronik bukan lagi satu-satunya media komunikasi di internet. Kita
mengenal Facebook, Twitter, Blog dan berbagai sosial media lainnya yang
memungkinkan kita berbagi informasi lebih tentang diri kita. Facebook bahkan
seolah ingin “memindahkan” kehidupan nyata kita kedalam dunia maya.
Jika
Joe Fox dan Kathleen Kelly bertemu pada jaman teknologi internet secanggih
sekarang, apakah kisah mereka akan berakhir indah di Riverside Park? Joe
Fox mungkin tidak perlu meminta temannya untuk mengintip siapa yang sedang
menunggunya di kafe. Kathleen mungkin akan lebih cepat menyadari siapa Joe
Fox.
Apapun
itu, You’ve Got Mail yang memotret fenomena interaksi manusia dimasa awal
berkembangnya teknologi internet memberitahu kita satu hal ini: sejak
awal, memang niscaya cinta bersemi di dunia maya
II.
Analisis dan Diskusi
Perkembangan teknologi menjadi begitu
pesat sejak jaman revolusi industri, dari analog ke
mekanik dan pada akhirnya ke digital. Digitalisasi
berkaitan erat dengan komputerisasi, sejak komputer
pertama kali ditemukan pada tahun 1941 oleh Konrad Zuse- Z3, ia menjadi alat
bantu manusia dalam mengkalkulasi, melibatkan interaksi
satu arah antara manusia dengan komputer
sebagai mesin penghitung[1].
Tujuh puluh tahun setelahnya
seiring dengan bentuknya, komputer
menjadi semakin kecil dan compact,
interaksi manusia dengan komputer juga semakin dinamis, tidak lagi satu arah
melainkan banyak arah. Komputer sudah bukan lagi
mesin biasa tetapi dia adalah artificial intelegent yang pada
saat kita berinteraksi dengannya dia menjadi environment baru. Environment tersebut
di respon sebagai atmosfer yang berbeda oleh otak kita. Atmosfer komputer ini adalah dunia yang positif, yang negatif, yang
jujur, yang palsu, yang beroposisi dapat
melebur jadi satu, sangat kaya informasi hingga menjadi polusi[2].
Dunia yang terpolusi ini adalah tempat
dimana manusia saling berinteraksi secara virtual mempertukarkan tanda-tanda tanpa makna, kemasan dari pada
isi, instan daripada esensi. Tanda-tanda palsu
(pseudo sign) meluncur bebas sebagai informasi yang menjelma menjadi tontonan yang indah-indah, yang bagus, yang ‘seharus’-nya,
dan yang ‘benar’. Tontonan menjadi komoditi
yang laris manis diantara masyarakat posmodern, seperti candu ia harus terus
menerus dikonsumsi.
Dalam film You’ve Got Mail, kemajuan internet dan
interaksi dunia virtual belum sehebat seperti sekarang. Jika dalam film
tersebut, pengguna internet hanya berinteraksi lewat tulisan dimana dapat
menimbulkan suatu rasa tersendiri bagi kedua insan yang melakukan hubungan
melalui email tersebut. Si wanita Kathleen ketika bercerita kepada temannya
tentang hubungan lewat email yang ia jalankan dia menganggap bahwa dia tidak
merasa melakukan perselingkuhan karena hubungan hanya sebatas kirim surat lewat
email dan tidak ada sentuhan fisik, pandangan mata dan sebagainya. Namun
kegiatan itu ia lakukan secara intens dan ketika dia bermain email (chating)
dia selalu sendirian dan menunggu pasangannya sampai pergi ke kantor atau saat
pacarnya sedang tidak di rumah dan ketika pacarnya datang maka dengan sigap ia
akan menutup laptopnya.
Ketika kathleen melakukan chatting dengan Joe
(dengan menggunakan nickname masing-masing) dapat dilihat dari beberapa mimik
wajah mereka, mulai dari tidak sabaran ketika login dan cek inbox, dengan
penasaran membuka surat yang baru dikirim, tertawa sendiri hanya karena membaca
tulisan yang ada pada layar laptop dan akan dengan serius serta percaya
menceritakan permasalahan hidup yang sedang dihadapi dan memberikan solusi.
Kita juga dapat melihat bagaiman kathleen melakukan saran yang diberikan joe
untuk mengatasi tokonya yang sedang bangkrut padahal mereka hanya kenal melalui
email.
Kebutuhan manusia dengan teknologi digital telah membawa peradaban
manusia ke tingkat yang mutakhir. Di era posmodern ini manusia telah
meninggalkan mekanik jaman modern yang terstruktur dan empiris, menggantinya
dengan mesin intelejensia yang memproduksi ruang virtual, realitas baru. Hal
ini sejalan dengan Barthes yang menganggap bahwa posmodern telah menghasilkan
spesies baru tanda, sebuah tanda yang adalah tanda itu sendiri , tanda yang
didalamnya petanda tidak berlaku. Tanda ini melampaui tanda yang semestinya, ia
adalah hypersig[3].
Ruang realitas dan ruang virtual melebur dan menghasilkan
pengalaman tubuh, pikiran dan jiwa. Menurut Freud pengalaman tersebut
disebabkan oleh 10 % kesadaran dan 90% ketidak sadaran didalam otak kita.
Artinya pada saat anda masuk ke ruang virtual, di bawah sadar ada yang membuai
anda untuk hanyut kedalamnya[4]. Secara tubuh anda memang
berada diruang realitas tetapi pikiran dan jiwa anda sedang berpergian ke ruang
virtual atau seperti ‘tamasya’. Menurut Piliang[5], berlibur dari tekanan
realita. Bermain bebas tanpa ada yang mengatur, menikmati pemandangan
(tontonan), dan merayakan kebanalan tanpa perlu lelah memikirkan esensi adalah
aura dari ruang virtual (aura of virtual) yang terus menerus membuai. Mata anda tidak berhenti menatap layar
karena ada ekstasi tontonan didalamnya, ada voyareism: keindahan yang
memuaskan hasrat; voracius: rakus; visceral:menjadi satu tubuh
sehingga anda high dan tidak bisa membedakan lagi virtual dengan
realitas.
Dalam film You’ve Got Mail dapat digambarkan
bagaimana kehidupan Joe dan Kathleen secara pribadi lebih mereka nikmati ketika
mereka berada di alam virtual, padahal mereka sendiri telah memiliki pasangan
masing-masing. Ketika bersama dengan pasangan mereka, memang mereka tidak saling
memikirkan satu sama lain, namun dalam fim ini terlihat bahwa bagaiman
sosialisasi secara virtual dapat berakibat pada lingkungan nyata kita. Pada
film ini digambarkan bagaimana joe yang kurang memahami sang kekasihnya
sehingga suatu hari dia menyadari bahwa kekasihnya lebih sibuk memikirkan
karirnya sendiri daripada Joe meskipun mereka saling mencintai. Lalu bagaiman
dengan kathleen, kathleen pun demikian setelah bermain email dengan joe dia
merasa bersalah dan terjadi sesuatu dengan hubungannya sampai akhirnya pacarnya
memutuskan dia karena dia telah jatuh hati dengan wanita lain. Kathleen pun
tidak merasa sakit hati karena dia juga sudah jatuh hati pada Joe di dunia
maya. Hal ini menggambarkan bahwa dunia virtual telah membuat orang yang secara
nyata di hadapan kita menjauh karena kurangnya komunikasi, sedangkan kita lebih
nyaman dan asyik berkomunikasi secara intens dengan orang yang belum kita kenal
secara nyata. Kita lebih memilih terlena di alam virtual karena kita
beranggapan selalu happy ending.
Melalui
film ini kita dapat menggologkan jenis aliran cyberspace oleh Mark Slouka yaitu
destopian, neo-futuris dan teknorealis. Dalam film ini memang awalnya sangat
mengidolakan kecanggihan internet dimana orang dapat dibuat lupa dengan dunia
realitanya ketika dia berada di ruang internet. Tetapi dikarenakan pada saat
itu internet belum booming seperti sekarang belum secanggih seperti saat ini
dan pada film itu digambarkan pula bagaimana masyarakat sekitar ada yang tidak
percaya akan internet dan alergi dengan teknologi seperti yang digambarkan oleh
kekasih kathleen dimana dia sangat mencintai mesin ketiknya dan menganggap
bunyi mesin ketik adalah suara nan merdu dan menyingkirkan laptop milik
kathleen. Ada juga teman kathleen yang merasa takut tapi penasaran dengan
internet, dia merasa bahwa internet adalah sesuatu yang palsu tapi menyenangkan
untuk di coba tetapi dia memilih dan meminta kathleen utnuk berhati-hati,
selain itu ada teman joe yang merasa risih dengan cerita joe tentang teman
internetnya dimana dia mengatakan bahwa apapun yang ada di internet adalah
kebohongan. Namun mereka berdua tetap tidak berpengaruh dan tetap berkirim
surat melalui email.
Lalu
masuk dalam jenis apa mereka yaitu kathleen dan joe dalam film ini ? menurut
saya dan beberapa kali menonton film maka mereka berdua tergolong pada jenis
teknorealis yaitu berada di tengah-tangah. Alasannya adalah meskipun mereka
secara intens melakukan komunikasi melalui email dan berjanji tidak akan lebih
intim akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu, meskipun pada akhirnya hanya
Joe yang mengetahui identitas sebenarnya teman chatingnya yaitu kathleen.
Meskipun sudah tau siapa teman maya-nya Joe masih tetap mengirimkan email
kepada kathleen dan juga melakukan pendekatan intens dan akhirnya mengajak bertemu
lagi. Meskipun kathleen merasa kecewa karena teman maya-nya tidak hadir pada
pertemuan awal dia tetap memberikan kesempatan untuk bertemu lagi. Karena
kathleen merasa sudah jatuh hati dengan teman dunia maya-nya yang tak lain
adalah Joe. Tapi bagi kathleen dia harus menemui pria yang telah membuatnya
jatuh cinta untuk menyakinkan dirinya bahwa yang terjadi pada dirinya adalah
nyata.
III.
Kesimpulan
Kecanggihan
teknologi informasi dan hadirnya internet telah membawa dampak tersendiri bagi
masyarakat di dunia. Perubahan cara berkomunikasi telah berubah secara drastis,
dimana kegiatan sosialisasi dan membangun sebuah hubungan tidak lagi harus
melalui bertemu dengan tatap muka, tetapi cukup dengan berkomunikasi dengan
internet.
Di
dalam internet, dalam dunia maya batas-batas akan kehidupan seakan tidak
diindahkan oleh masyarakat pengguna, mereka seakan terlena oleh
pandangan-pandangan magis yang ditawarkan oleh internet. Dalam film tersbut
digambarkan bagaiman dunia internet telah menjauhkan yang dekat dan yang nyata
sedangkan kita lebih asyik mendekatkan yang jauh melalui komunikasi intens
melalui alat yang disebut dengan internet. Bagaiman seorang kathleen dengan
polosnya jatuh hati pada orang yang belum dikenal sama sekali dan belum pernah
di temuinya sama sekali dan hanya lewat kata-kata kathleen jatuh hati kepada
joe. Ketika mereka bertemu di taman sesuai dengan tempat yang dijanjikan betapa
bahagia kathleen ketika pria yang membuat jatuh hati lewat kata-kata adalah
Joe, seseorang yang dulunya sangat dibencinya di dunia nyata karena membuat
bangkrut bisnisnya tetapi juga yang mulai mendekatinya ketika dia putus dari
kekasihya. Happy ending story, jika
pria di internet itu bukan joe, apakah kathleen akan tetap percaya akan
cintanya? Menurut saya rasa tidak tapi who
knows karena hati tak bisa di tebak.
Daftar
Pustaka
The Invention of Email. 1998. Pretex
Magazine. Tersedia di http://socrates.berkeley.edu/~scotch/innovation/inventing_email.pdf
di akses pada tanggal 11 Januari 2016
Hadi,
Astar. 2005. Matinya dunia cyberspace: kritik humanis Mark Slouka terhadap
jagat maya. Yogyakarta : LKiS Tersedia di https://books.google.co.id/books?id=ZtwzkhXbKF0C&pg=PA140&lpg=PA140&dq=cyberspace+mark+slouka&sourcedi
akses pada tanggal 11 Januari 2016
Wellman, Barry, Gulia, Milena. 1997. Net
Surfers Don’t Ride Alone : Virtual Communities As Communities. Canada :
University of Toronto, Department of Sociology and Centre for Urban And
Community Studies. Tersedia di http://groups.chass.utoronto.ca/netlab/wp-content/uploads/2012/05/Net-Surfers-Dont-Ride-Alone-Virtual-Community-as-Community.pdfdi
akses pada tanggal 11 Januari 2016
O'Regan, G. (2012). A Brief History of Computing. New York:
Springer.
Heim, M. (1993). The Metaphysics of Virtual Reality. New
York: Oxford University Press.
Piliang, A. Y. (2012). Semiotika dan Hipersemiotika.
Bandung: Matahari.
Westerink, H. (2009). A Dark Trace: Sigmund Freud on the Sence
of Guilt. Leuven: Leuven University Press.
[1] O'Regan,
G. (2012). A Brief History of Computing. New York: Springer.
[2] Heim,
M. (1993). The Metaphysics of Virtual Reality. New York: Oxford
University Press.
[3] Piliang, A. Y. (2012). Semiotika dan
Hipersemiotika. Bandung: Matahari.
[4] Westerink,
H. (2009). A Dark Trace: Sigmund Freud on the Sence of Guilt. Leuven:
Leuven University Press.
[5] Piliang, Y. A.
(2011). Ekonomi Virtual dan Masyarakat Cyber:Menuju Milenium Ketiga. In Y. A.
Piliang,
Dunia yang Dilipat (pp. 110-114).
Bandung: Jalasutra.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar