Sharing Sebuah Pengalaman Tentang Profesiku...
“Aku pengen sekali membangun
perpustakaan sekolah di daerah asalku chiz” dia berkata padaku. Sontak aq
menjawab “sebenarnya mbk, ketika kita nanti kita lulus kita dihadapkan pada dua
jenis pilihan pekerjaan, kerja di perpustakaan yang sudah bagus dan keren atau
kita memulai dari perpustakaan kecil lalu membangunnya, gak keren memang tapi
sosialnya tinggi.”
“Kau pilih yang mana?” dia berkata lagi
“Aku pengen yang sosial, tapi gak
mungkin mbak susah. Kalau kita ingin yang sosial dulu kita harus bekerja di
tempat mapan dulu, nabung cari koneksi baru bisa bantu
perpustakaan-perpustakaan kecil” jawabku.
Sebuah ingatan kecil tentang percakapan
dengan seorang kakak angkatan ketika aku masih menjadi mahasiswa di jurusan
ilmu informasi dan perpustakaan di salah satu universitas negeri di surabaya.
Percakapan itu terjadi ketika kita sedang asyik membangun sebuah perpustakaan
mini khusus untuk jurusan kami. Dia sebut saja namannya Anisa dan dia selalu
memanggilku chiss tak tau kenapa tapi tak masalah bagiku. Kejadian itu terjadi
sekitar ±7 tahun yang lalu dan mau tau setelah lulus kami memilih yang mana?
Dapat sangat di tebak, kami wisuda
bareng dan profesi kita juga sama “Pustakawan”. Mbak anisa bekerja di salah
satu perpustakaan perguruan tinggi negeri di Surabaya sedangkan aku bekerja di
perpustakaan sekolah tinggi swasta di surabaya. Oke kita tinggalkan mbak Anisa
dan mulai dengan ceritaku (hehehe,,,sedikit narsis yaa). J
Menjadi pustakawan bukanlah cita-citaku
karena cita-citaku menjadi seorang guru TK, yes aku sangat ingin jadi guru TK.
Namun ya perjalanan hidup, tetapi nothing
special juga tentang jalan hidup saya ordinary
lah, sampai saya benar-benar serius jadi pustakawan. Sejak saya kuliah di
jurusan IIP bertemu dengan para dosen hebat dan teman-teman yang gak kalah
hebat, saya merasa i find my way, yah
maksudnya adalah saya tau setelah lulus saya jadi apa (wkwkwkwkwkwk...) but
seriously saya benar-benar dapat banyak ilmu di sana meskipun yang saya rasakan
bukan ilmu tentang perpustakaannya yang saya gandrungi tetapi ilmu manajemen
dan ilmu sosial-nya yang sangat kental sekali, mungkin efek tidak semua dosen
belum lulusan IIP ya.
Loncat yaa...
Lulus tahun 2009 saya langsung hunting
kerja seperti lulusan pada umumnya. Alhamdulillah semua usaha membawa hasil,
tak lama setelah wisuda ada panggilan dari salah satu sekolah tinggi swasta di
Surabaya, saya test dan wawancara dan keterima bekerja di sana sampai sekarang
dan Alhamdulillah jadi punggawa di Perpustakaan tersebut.
Bekerja di perpustakaan, alah mak jaang.... perpustakaannya jauh
banget dengan kampus saya.
Pertama saya bingung harus melakukan
apa, karena saya sejak awal diletakkan di bagian pengolahan koleksi dan ya staf
disana kurang welcome awalnya dengan
saya makanya saya sering dicuekkin. Membantu di pelayanan, Ya Tuhan, ampun
masih manual padahal sudah ada 3 komputer nongkrong di meja sirkulasi. Sekali
bantu, dilarang pula suruh balik kucing di ruangan pengolahan.
Seminggu nganggur, oke saya sudah tidak
betah disini. Semua serba manual, mulai pengolahan, pelayanan, administrasi
kurang rapi ruangan kerja amburadul tapi ada plusnya mahasiswa setiap masuk
perpustakaan sudah menggunakan absen terkomputerisasi, sudah tersedia OPAC,
sudah ada sistem automasi tapi khusus untuk entri data buku saja. Dan kelebihan
lainnya adalah para staf yang mayoritas lulusan SMA hafal banget kalau selving
buku dan kompak, dan satu lagi kelebihan istimewahnya jam istirahatnya ya ampun
Tuhan break dan perpustakaan tutup
selama 2 jam, saat itu saya bingung mau bilang apa sedih karena saya masih
terbawa nuansa mahasiswa senang juga karena saya bisa internetan, hahahaha (but
honestly, saya sedih dengan jam istirahat yang sebegitu lamanya).
Dua minggu berjalan, saya mulai
berfikir saya gak bisa menganggur seperti ini seperti orang magabut atau
manusia 8 to 4. “I must do something”
dalam hati saya berkata. Banyak hal yang
harus diperbaiki di perpustakaan ini dan sebagai pustakawan saya tidak boleh
diam saja dan tidak boleh menunggu perintah. Dengan berbagai usaha mulai aktif
mencari pekerjaa (salah satunya memperbaiki buku rusak), memberi masukkan
kepada atasan, diskusi dengan para senior,
mulai analisa kesana kemari, diskusi dengan the only one pustakawan senior disana dan banyak informasi yang
saya peroleh. Melakukan pengembangan untuk suatu perpustakaan yang sudah
beridiri dan ketika kita masih berstatuskan staf baru itu adalah pengalaman
luar biasa dan tentulah tidak semudah seperti yang di angan dan tak semudah
teori yang dijelaskan oleh dosen kita, semua perlu trik-trik tertentu agar
tujuan kita tercapai. Triknya apa...ada deh (next chapter).
Menjadi pustakawan tentunya juga
mengalami godaan, godaan untuk pindah ke tempat yang lebih baik. Ada beberapa
panggilan mulai menggoda saya mulai dari perpustakaan almamater, perpustakaan
swasta, sampai BUMN. Namun apalah daya, saya sudah memantapkan hati bahwa saya
harus bisa membuat Perpustakaan tempat saya bekerja ini menjadi perpustakaan
yang besar suatu saat nanti.
Alhamdulillah, Allah itu Baik Hati.
Katika semua godaan berhasil ditaklukkan yang terjadi adalah saya mendapatkan
banyak pengalaman baik dalam hal ilmu, pengetahuan, informasi, networking dan
yang paling seru jalan-jalan untuk kepentingan seminar dan pelatihan. Saya
tidak pernah berfikir bahwa menjadi pustakawan akan memberikan dampak yang luar
biasa buat hidup saya. Dari organisasi internal saya mulai sering berdiskusi
dengan kepala perpustakaan saat itu dan beliau sangat care dengan semua
masukkan saya namun semua kebijakan saya kembalikan ke beliau dengan
penyesuaian kondisi. Saya juga sering melakukan negosiasi dengan para petinggi
yang lain dan juga sering berkomunikasi dengan para dosen. Kekurangan saya
adalah saya kurang terlibat dalam hal pelayanan kepada mahasiswa, karena memang
fokus saya adalah pembenahan pada manajemen koleksi, ya terlalu teknis mungkin
karena saya lebih sering melakukan pekerjaan teknis sehingga sangat jarang
memberikan pelayanan kepada mahasiswa. Tetapi bukan berarti saya tidak pernah
memberikan pelayanan loh ya..saya pernah namun jika dibandingkan dengan
pengolahan teknis 70 : 30. Saya kerap membantu mahasiswa dalam mencari buku,
mulai dengan pencarian di OPAC sampai ketemu bukunya, atau terkadang saya
sering memberikan bantuan kepada mahasiswa secara sembunyi-sembunyi dikarenakan
tidak seusia prosedur hal ini saya laukan karena saya menganggap bahwa
peraturan yang ada sangat tidak user
oriented sekali. Salah satu contohnya adalah memberikan layanan sirkulasi
padahal harusnya sudah tutup atau memperbolehkan mahasiswa meminjam buku yang
baru saja dikembalikan namun belum dilakukan selving ke raknya, hihihi...maaf!
Di luar organisasi, saya sering diikut
sertakan dalam berbagai kegiatan seminar dan pelatihan baik itu di dalam maupun
luar kota. Pengalaman seminar paling jauh yaitu seminar ke Bali. Saya Cuma
berfikir waktu itu, Jadi pustakawan aja kamu bisa jalan-jalan ke bali karena
acara seminar naik pesawat biaya ditanggung kantor lagi. So, kalau kamu
berfikir profesi pustakawan itu tidak hebat dan berkelas apalah saya dan bahkan
ada yang berhasil ke luar negeri (luar negeri masih impian saya tapi wajib
gratis,hihihihi). Pengalaman berharga jadi pustakawan lagi adaah ketika kita
diikutsertakan dalam Lomba dan kita berhasil menjadi pemenang, rasa bangganya
sangat luar biasa. Ternyata profesi pustakawan juga keren seperti profesi yang
lainnya sampai ada lombanya dan kegiatan ilmiah seperti call for papers. Maaf
ya sombong dikit, saya pernah menjadi juara 3 pustakawan berprestasi tingkat
Kopertis di wilayah saya 2 kali, tidak masalah meskipun bukan tingkat nasional bangganya itu di
tempat kerja dimana yang ikut lomba dan juara adalah bagian perpustakaan dimana
perpustakaan di kantor saya dianggap tempat berkumpulnya orang bermasalah.
Pengalaman di luar oragnisasi yang lain adalah networking dan menjadi pengurus di Forum Perpustakaan Tinggi.
Bertemu dengan sesama pustakawan dan staf perpustakaan dari perguruan tinggi
lain menurut saya sangat besar manfaatnya, karena pada kesempatan tersebut
biasanya kita gunakan untuk sharing dan memberi masukkan bahkan sangat membantu
kita dikala butuh bantuan.
Perpustakaan saya saat ini mengalami
banyak perubahan berkat apa yang sudah saya peroleh dari berbagai pengalaman. Saya
tidak pernah menyadari bahwa profesi yang sering dianggap sebelah mata ternyata
memiliki segudang potensi dan manfaat bagi yang bisa memahami dan mencintai
profesi ini. Ketika kita memilih untuk menjadi seorang pustakawan maka kita
harus berkomitmen bahwa pustakawan adalah pekerja sosial bukan komersil, jadi
semua pekerjaan harus dilakukan dari hati. Awalnya saya malu karena selalu
dianggap sebagai tukang jaga buku, namun setelah setahun saya mulai sadar bahwa
ini adalah profesi saya dan saya harus bangga karena profesi pustakawan adalah
profesi yang “halal”. Banyak sekali orang-orang hebat yang berprofesi sebagai
pustakawan.
Aku tidak menyesal dengan profesiku
sekarang dan dengan tempat kerjaku saat ini. Setelah apa yang raih dengan
profesiku dan dengan perpustakaanku apakah aku akan berhenti sekarang dan duduk
diam, tidak! Profesiku “Pustakawan” bukanlah profesi yang ketika dia sukses dia
kemudian akan santai dan diam meliat kesuksesannya, profesi ku menuntut lebih,
untuk menjadi lebih baik, untuk memberikan yang terbaik. Life long learning
menjadi kewajiban bagi Pustakawan. Cerdas dan sosial adalah sifat dasar untuk
menjadi seorang pustakawan.
nyimak :D
BalasHapusbangga bisa bekerjasama sama dengan kaka.
BalasHapusSalam hormat untuk ibu pustakawan :-)