Sabtu, 16 Januari 2016

Menggali Kecintaan Anak terhadap Perpustakaan melalui Peningkatan Mutu Layanan



Oleh :
Kristina

Pendahuluan

Eksistensi sebuah perpustakaan di sekolah merupakan suatu hal yang wajib ada dalam sebuah lembaga atau lingkungan pendidikan. Perpustakaan merupakan gudangnya ilmu dan informasi bacaan, baik yang berkaitan dengan dunia pendidikan maupun pengetahuan umum sehingga keberadaan perpustakaan di lingkungan sekolah diharapkan dapat memudahkan siswa dalam mencari referensi atau rujukan sumber ilmu yang sedang dipelajarinya, dengan demikian siswa dapat mengembangkan wacana serta wawasannya lebih luas lagi.  Namun, semua itu hanya akan menjadi dilema, manakala perpustakaan sekolah tidak dikelola dengan baik. Terlebih lagi apabila suasana perpustakaan tersebut tidak menarik. Jangankan untuk membaca, sekadar singgah saja mungkin siswa sudah enggan sehingga eksistensi sebuah perpustakaan dianggap seperti ruang kosong dan fungsinya sebagai gudang ilmu menjadi terabaikan.
Sekolah dapat menumbuhkan minat baca siswa dengan menjadikan perpustakaan bersifat aktif dan kondusif. Perpustakaan sekolah dapat mengadakan klub baca, hari baca, wajib baca, jam baca dalam satu minggu, promosi, iklan, resensi buku, story telling, lomba (membuat cerpen, puisi, resensi buku, dsb.). 



Perpustakaan sekolah merupakan perpustakaan yang diselenggarakan pada sebuah sekolah, dikelola, sepenuhnya oleh sekolah yang bersangkutan, dengan tujuan utama mendukung terlaksananya dan tercapainya tujuan sekolah dan tujuan pendidikan pada umumnya. Sekolah merupakan tempat penyelenggaraan proses belajar mengajar, menanamkan dan, mengembangkan berbagai nilai, ilmu pengetahuan, dan teknologi, keterampilan, seni, serta, wawasan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu, perpustakaan sekolah bukan hanya sekedar tempat penyimpanan bahan pustaka (buku. dan non buku), tetapi terdapat upaya untuk mendayagunakan agar koleksi-koleksi yang ada dimanfaatkan oleh pemakainya secara maksimal. Hal ini dipertegas dalam SK Mendiknas No. 053/U/2001 tanggal 19 April 2001 tentang Penyusunan Pedoman Standar Pelayanan Minimal Penyelenggaraan Persekolahan pada Tingkat TK, Dasar sampai denganSMU/SMK, bahwa keberadaan perpustakaan. Sekolah merupakan syarat dalam standar pelayanan minimal (SPM) tersebut. Sehubungan hal itu agar bahan pustaka, dapat didayagunakan secara maksimal sesuai dengan tujuan dan fungsi perpustakaan sekolah, maka tentunya diperlukan suatu manajemen perpustakaan sekolah yang memadai.
Pembahasan
Sikap Pustakawan
Perpustakaan sebagai lembaga penyedia informasi dan wadah ilmu pengetahuan sudah menjadi kewajiban untuk menyelenggarakan dan mengolah sumber informasi yang dibutuhkan oleh pengguna. Dan keberlangsungan perpustakaan tersebut tak lepas dari peran pustakawan sebagai penggerak perpustakaan itu sendiri.
Pustakawan perpustakaan sekolah diuntut untuk tidak hanya berfokus pada pekerjaan teknis perpustakaan seperti mengolah buku dan administrasi saja, tetapi lebih dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam memberikan layanan kepada pengguna terutama untuk pengguna usia anak SD. Pustakawan harus dapat membrikan pelayaan yang baik, sabar, ramah, tidak membosankan serta dapat menciptakan suasana yang kondusif sehingga para siswa betah untuk berada di perpustakaan.
Ketika menyangkut masalah yang berhubungan dengan bacaan anak pustakawan dituntut untuk mengerti dan tahu lebih banyak, sehingga dapat membantu pengguna dalam memilih bahan bacaan yang baik. Menurut Bunanta (2004:80) seorang pustakawan bagian layanan anak seharusnya adalah orang yang gemar membaca dan mempunyai antusiame pada hal-hal yang berhubungan dengan anak-anak termasuk mengenai bacaan anak, sehingga dapat membimbing dan menjadi tempat bertanya bagi para pengguna layanan anak.
Pustakawan adalah sebuah profesi yang diperuntukkan bagi para pengelola informasi di perpustakaan. Seorang pustakawan yang profesional adalah seorang manajer informasi yang akan menerapkan prinsip-prinsip manajemen dalam pengelolaan perpustakaan terutama pada era informasi ini. Saat ini pustakawan dituntut untuk bekerja lebih profesional dan mampu berkomunikasi ke segenap lapisan masyarakat (Sistarina, 2006:80).
Lebih jauh, pustakawan diharapkan mampu berperan ganda di suatu lingkungan masyarakat tertentu. Di dunia pendidikan, seorang pustakawan dapat berperan ganda yakni sebagai penyaji informasi dan sekaligus sebagai pendidik. Menurut  Supriyono (1998), maka untuk memenuhi profesi, seorang pustakawan hendaknya :
a)      Dalam melaksanakan tugasnya harus selalu berorientasi pada kepentingan pemakai.
b)      Memiliki kemarnpuan berkomunikasi ilmiah secara lisan maupun tertulis.
c)      Memiliki kemampuan bidang perpustakaan setingkat sarjana muda (D2,D3
d)     Mahir dalam melaksanakan kegiatan keperpustakaan, pemasyarakatan perpustakaan, pengembangan perpustakaan maupun profesi.
e)         Mampu memanfaatkan teknologi informasi perpustakaan dalam mengelola perpustakaan dan   memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat.
f)          Mampu mengembangkan teori, ilmu, konsep tentang perpustakaan, dokumentasi dan informasi serta profesi kepustakawanan.

Pengembangan Jenis Layanan di Perpustakaan Sekolah
Layanan perpustakaan sekolah diharapkan memiliki jenis layanan yang beragam yang dapat menarik minat para siswa dan guru untuk memanfaatkan jasa layanan perpustakaan sekolah, sehingga keberadaan akan perpustakaan dilingkungan sekolah itu bukan karena wajib ada tetapi lebih karena dibutuhkan oleh para siswa dan guru. Adapun jenis layanan yang dapat dikembangkan adalah sebagai berikut :
1.      Layanan Bimbingan Pemakai
Layanan bimbingan pemakai adalah layanan yang memberikan informasi dan pengetahuan bagi pengguna khususnya anak-anak dalam menggunakan layanan-layanan yang ada di perpustakaan, meliputi melakukan penelusuran koleksi melalui catalog, melakukan penelusuran koleksi di rak buku, memilih bahan bacaan yang sesuai, memberikan informasi tentang jenis-jenis koleksi perpustakaan, dsb. Diharapkan dengan adanya layanan ini pengguna dapat lebih menguasai dan memahami bagaimana cara menggunakan layanan perpustakaan dan menelusur koleksi secara cepat, mudah dan efektif sejak masih anak-anak. Selain itu bimbingan pemakai di berikan dengan tujuan agar pengguna lebih mengenal fungsi dan manfaat perpustakaan sejak masih anak-anak sehingga ketika dewasa pengguna masih menggunakan perpustakaan sebagai tempat pembelajaran seumur hidupnya sehingga dapat mengetahui arti penting perpustakaan.
Ada dua bentuk layanan bimbingan pemakai yang dapat diberikan oleh perpustakaan kepada pengguna (Qalyubi, 2003:235), yaitu :
a.       Bimbingan secara langsung, yaitu bimbingan yang diberikan melalui hubungan langsung antara petugas perpustakaan dengan pengguna perpustakaan, baik yang bersifat individual formal maupun yang bersifat klasikal formal.
b.      Bimbingan tidak langsung, yaitu bimbingan yang diberikan melalui media tertentu, misalnya dengan brosur, pampflet, petunjuk penggunaan, dan terbitan lainnya.
Sedangkan dilihat dari aspek pelaksanaanny, bimbingan kepada pengguna dalam lingkungan perpustakaan  dapat dilakukan dengan dua sistem, yaitu sebagai berikut :
a.       Insidental, yaitu bimbingan yang diberikan hanya sewaktu-waktu pada saat ada pertanyaan dan tidak direncanakan sebelumnya.
b.      Terencana, yaitu bimbingan yang diberikan dengan perncanaan terprogram yang biasanya dilakukan dan diselenggarakan secara periodik.

  1. Layanan Bimbingan Membaca
Layanan bimbingan membaca yaitu pemberian layanan kepada pengguna perpustakaan khususnya bagi para siswa kelas 1 (satu) dengan cara memberikan bimbingan membaca dan menulis. Hal ini dilakukan karena perpustakaan sekolah erat kaitannya dengan masalah minat baca pada usia dini sehingga mau tidak mau pustakawan harus dapat menjadi seorang guru yang baik bagi anak yang memanfaatkan layanan ini.
Pelaksanaan layanan bimbingan membaca dapat dilakukan secara langsung yang dilakukan oleh petugas dalam bentuk individual formal maupun yang bersifat klasikal formal. Dalam bentuk individual formal apabila pengguna datang ke perpustakaan dan meminta agar pustakawan membantunya bagaimana cara membaca atau perpustakaan melakukan bimbingan yang bersifat klasikal formal yang terencana yaitu kegiatan ini dilakukan pada hari-hari tertentu dimana akan dibentuk secara klas-klas formal dengan pustakawan sebagai pendidik atau dapat memanggil guru bantuan. Layanan ini akan lebih baik jika pelaksanaan dilakukan secara teratur dan terencana dengan baik.
  1. Layanan Story Telling
Layanan mendongeng atau story telling ini biasanya sangat digemari anak-anak terutama usia balita dan usia awal sekolah dasar. Pada usia ini anak-anak memiliki rasa ingin tahu. Karena itu sangat tepat bila pada usia ini diperkenalkan buku-buku yang sesuai dengan alam pikiran anak-anak. Buku tersebut dapat dibacakan oleh pustakawan dengan cara seperti mendongeng.
Pustakawan harus menggunakan koleksi dan alat peraga yang ada di perpustakaan dalam mendongeng. Pembawa cerita harus mempunyai pengetahuan tentang bacaan anak-anak yang akan disampaikan.
Selain pihak pustakawan yang memberi story telling pihak perpustakaan dapat juga mengadakan lomba story telling bagi siswa-siswi yang diadakan secara rutin, sehingga selain untuk meningkatkan minat baca dan daya imajinai siswa kegiatan ini juga dapt melatih rasa percaya diri siswa terhadap kemampuannya di hadapan banyak orang.
  1. Layanan Pemutaran Film
Perpustakaan sekolah dapat mengadakan kegiatan pemutaran film secara rutin yaitu pada akhir pekan atau pada saat seteah ujian sekolah untuk refreshing. Perpustakaan sekolah dapat menginformasikan jadwal pemutaran film di perpustakaan melalui mading sekolah atau bekerja sama dengan pihak sekolah yaitu guru yang menginformasikan bahwa setelah ujian ada pemutaran film di perpustakaan. Kegiatan tersebut termasuk dalam fungsi perpustakaan yaitu sebagai sarana rekreatif, sehingga para siswa akan terbuka wawasannya bahwa perpustakaan tidak hanya identik dengan buku.
 Beberapa jenis film dengan tema sejarah, flora dan fauna, alam, pengenalan tentang negara, penemuan ilmiah dan ruang angkasa dapat menjadi pilihan untuk diputar. Pustakawan juga dapat memutarkan film anak yang berjenis animasi dimana film jenis ini sedang trend di kalangan anak-anak. salah satu contohnya adalah dengan memutar film animasi avatar, dimana dalam film ini terdapat setting tentang perpustakaan.
Pustakawan juga dapat memberikan kuis atau kegiatan bercerita kembali mengenai film yang di putar agar para siswa lebih bersemangat dan aktif dalam kegiatan ini.
  1. Mendatangkan Mobil Perpustakaan dan Kunjugan ke Perpustakaan Umum
Pustakawan sekolah dapat bekerja sama dengan pihak Perpustakaan Provinsi atau Perpustakaan Kota untuk mendatangkan Perpustakaan Keliling tau Mobil Pustaka ke Sekolah. Tujuannya adalah agar para siswa mengenal tentang jenis perpustakaan dan mendapatkan jenis bacaan yang berbeda dari biasanya serta untuk menghilangkan kejenuhan akan kegiatan yang ada di perpustakaan.
Darmawisata atau kunjungan ke Perpustakaan Umum atau Taman Bacaan di area taman kota juga dapat dijadikan alternatif kegiatan lain untuk mengenalkan jenis perpustakaan lain kepada para siswa. Hal tersebut mengajarkan bahwa perpustakaan tidak hanya terdapat pada tempat yag formal seperti sekolah saja tetapi juga ada yang di taman kota, di pusat kota, dsb.
Kedua kegiatan tersebut dapat dilakukan ketika jumlah pengunjung perpustakaan menurun dikarenakan siswa sudah mulai merasa jenuh dengan kegiatan indoor di perpustakaan sekolah.
  1. Menyediakan Layanan Multimedia atau Digital
Era teknologi informasi tidak hanya berpengaruh pada kehidupan orang dewasa saja tetapi juga pada anak-anak tak terkecuali anak usia sekolah dasar (SD). Banyak sekali anak usia dini yang sudah bisa dan terbiasa menggunakan teknologi informasi dalam kehidupan sehari-hari termasuk penggunaan internet tetapi mereka sangat minim pengetahuan akan fungsi dan manfaat dari teknologi informasi tersebut.
 Dengan Pihak perpustakaan sekolah yaitu pustakawan dan petuga perpustakaan dapat memanfaatkan kondisi ini dalam bentuk layanan yaitu penyediaan fasilitas komputer untuk layanan digital. Selain penyediaan fasilitas tersebut, pustakawan berkewajiban untuk memberi bimbingan dan pengetahuan akan fungsi dan manfaat internet secara baik dan benar, serta tata cara penggunaan yang bijaksan bagi anak usia SD. Pustakawan juga dapat menjelaskan sisi positif dan negatif dari penggunaan internet kepada para siswa.
Selain itu, pustakawan dapat memberikan berbagai fasilitas aplikasi program yang bersifat edukatif dan rekreatif pada layanan digital dimana informasinya disesuaikan dengan kurikulum yang ada.
  1. Pemberian Reward
Acara pemberian reward ini dimaksudkan untuk mengapresiasi kecintaan para siswa akan perpustakaan sekolah. Kategori pemberian reward ini dapat dikelompokkan seperti pengunjung paling aktif, peminjam paling aktif, pengunjung paling tertib, dsb. Kegiatan ini dapat dilakukan setahun sekali yang diadakan pada saat ulang tahun perpustakaan atau peringatan hari berkunjung ke perpustakaan.
  1. Kordinator Mading Sekolah
Perpustakaan sekolah selain sebagai pusat sumber belajar para siswa juga merupkan sumber informasi dan pengetahuan di lingkungan sekolah. Berbagai jenis koleksi ada di perpustakaan sekolah yang berisi segala informasi dan pengetahuan baik bersifat edukatif, non edukatif dan populer sehingga semua informasi tersebut dapat di repacking atau di kemas kembali dalam bentuk mading sekolah. Kegitan ini dapat merangsang daya kreasi, menulis dan membca bagi para siswa ataupun guru.
Pihak perpustakaan sekolah dapat menjadi kordinator yang bekerja sama dengan para guru kelas, yaitu memberikan jadwal pada setiap kelas untuk mengisi mading sekolah secara rutin misalnya mingguan, bulanan, dsb, dan pustakawan bertugas untuk menentukan tema dan menyeleksi informasi yang akan dipasang di mading.  
  1. Selain kegiatan-kegiatan di atas yang langsung berhubungan dengan perpustakaan, layanan anak juga dapat melakukan kegiatan-kegiatan seperti pameran buku anak, lomba-lomba khusus anak seperti lomba menggambar, lomba bercerita, dsb. Kegiatan berdiskusi dengan penulis atau tokoh masyarakat. Selain itu, pustakawan dapat melakukan kegiatan berdarmawisata bersama para murid ke tempat-tempat bersejarah seperti museum.





DAFTAR PUSTAKA
Bunanta, Murti. 2004. Buku, Mendongeng dan Minat Membaca. Jakarta : Pustaka Tangga
Priyono, Agus. 2006. Perpustakaan Atraktif. Jakarta : Grasindo
Koswara, dkk. 1998. Dinamika Informasi dalam Era Global. Bandung : Remaja Rosda Karya.
Qalyubi, Syihabuddin. 2003. Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Yogyakarta : IAIN Sunan Kalijaga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar