Oleh :
Kristina
Pendahuluan
Eksistensi sebuah
perpustakaan di sekolah merupakan suatu hal yang wajib ada dalam sebuah lembaga
atau lingkungan pendidikan. Perpustakaan merupakan gudangnya ilmu dan informasi
bacaan, baik yang berkaitan dengan dunia pendidikan maupun pengetahuan umum
sehingga keberadaan perpustakaan di lingkungan sekolah diharapkan dapat
memudahkan siswa dalam mencari referensi atau rujukan sumber ilmu yang sedang
dipelajarinya, dengan demikian siswa dapat mengembangkan wacana serta
wawasannya lebih luas lagi. Namun, semua
itu hanya akan menjadi dilema, manakala perpustakaan sekolah tidak dikelola dengan
baik. Terlebih lagi apabila suasana perpustakaan tersebut tidak menarik.
Jangankan untuk membaca, sekadar singgah saja mungkin siswa sudah enggan
sehingga eksistensi sebuah perpustakaan dianggap seperti ruang kosong dan
fungsinya sebagai gudang ilmu menjadi terabaikan.
Sekolah dapat menumbuhkan
minat baca siswa dengan menjadikan perpustakaan bersifat aktif dan kondusif.
Perpustakaan sekolah dapat mengadakan klub baca, hari baca, wajib baca, jam
baca dalam satu minggu, promosi, iklan, resensi buku, story telling, lomba (membuat
cerpen, puisi, resensi buku, dsb.).
Perpustakaan sekolah
merupakan perpustakaan yang diselenggarakan pada sebuah sekolah, dikelola,
sepenuhnya oleh sekolah yang bersangkutan, dengan tujuan utama mendukung terlaksananya
dan tercapainya tujuan sekolah dan tujuan pendidikan pada umumnya. Sekolah
merupakan tempat penyelenggaraan proses belajar mengajar, menanamkan dan, mengembangkan
berbagai nilai, ilmu pengetahuan, dan teknologi, keterampilan, seni, serta,
wawasan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu,
perpustakaan sekolah bukan hanya sekedar tempat penyimpanan bahan pustaka
(buku. dan non buku), tetapi terdapat upaya untuk mendayagunakan agar koleksi-koleksi
yang ada dimanfaatkan oleh pemakainya secara maksimal. Hal ini dipertegas dalam
SK Mendiknas No. 053/U/2001 tanggal 19 April 2001 tentang Penyusunan Pedoman
Standar Pelayanan Minimal Penyelenggaraan Persekolahan pada Tingkat TK, Dasar
sampai denganSMU/SMK, bahwa keberadaan perpustakaan. Sekolah merupakan syarat
dalam standar pelayanan minimal (SPM) tersebut. Sehubungan hal itu agar bahan
pustaka, dapat didayagunakan secara maksimal sesuai dengan tujuan dan fungsi
perpustakaan sekolah, maka tentunya diperlukan suatu manajemen perpustakaan
sekolah yang memadai.
Pembahasan
Sikap Pustakawan
Perpustakaan sebagai lembaga penyedia informasi dan
wadah ilmu pengetahuan sudah menjadi kewajiban untuk menyelenggarakan dan
mengolah sumber informasi yang dibutuhkan oleh pengguna. Dan keberlangsungan
perpustakaan tersebut tak lepas dari peran pustakawan sebagai penggerak
perpustakaan itu sendiri.
Pustakawan perpustakaan
sekolah diuntut untuk tidak hanya berfokus pada pekerjaan teknis perpustakaan
seperti mengolah buku dan administrasi saja, tetapi lebih dituntut untuk lebih
kreatif dan inovatif dalam memberikan layanan kepada pengguna terutama untuk
pengguna usia anak SD. Pustakawan harus dapat membrikan pelayaan yang baik,
sabar, ramah, tidak membosankan serta dapat menciptakan suasana yang kondusif
sehingga para siswa betah untuk berada di perpustakaan.
Ketika menyangkut masalah yang berhubungan dengan bacaan anak pustakawan
dituntut untuk mengerti dan tahu lebih banyak, sehingga dapat membantu pengguna
dalam memilih bahan bacaan yang baik. Menurut Bunanta (2004:80) seorang
pustakawan bagian layanan anak seharusnya adalah orang yang gemar membaca dan
mempunyai antusiame pada hal-hal yang berhubungan dengan anak-anak termasuk
mengenai bacaan anak, sehingga dapat membimbing dan menjadi tempat bertanya
bagi para pengguna layanan anak.
Pustakawan
adalah sebuah profesi yang diperuntukkan bagi para pengelola informasi di
perpustakaan. Seorang pustakawan yang profesional adalah seorang manajer
informasi yang akan menerapkan prinsip-prinsip manajemen dalam pengelolaan
perpustakaan terutama pada era informasi ini. Saat ini pustakawan dituntut
untuk bekerja lebih profesional dan mampu berkomunikasi ke segenap lapisan
masyarakat (Sistarina, 2006:80).
Lebih jauh, pustakawan diharapkan mampu berperan
ganda di suatu lingkungan masyarakat tertentu. Di dunia pendidikan, seorang
pustakawan dapat berperan ganda yakni sebagai penyaji informasi dan sekaligus
sebagai pendidik. Menurut Supriyono
(1998), maka untuk memenuhi profesi, seorang pustakawan hendaknya :
a)
Dalam melaksanakan tugasnya harus selalu
berorientasi pada kepentingan pemakai.
b)
Memiliki kemarnpuan berkomunikasi ilmiah
secara lisan maupun tertulis.
c)
Memiliki kemampuan bidang perpustakaan
setingkat sarjana muda (D2,D3
d)
Mahir dalam melaksanakan kegiatan
keperpustakaan, pemasyarakatan perpustakaan, pengembangan perpustakaan maupun
profesi.
e)
Mampu memanfaatkan teknologi informasi
perpustakaan dalam mengelola perpustakaan dan
memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat.
f)
Mampu mengembangkan teori, ilmu, konsep
tentang perpustakaan, dokumentasi dan informasi serta profesi kepustakawanan.
Pengembangan
Jenis Layanan di Perpustakaan Sekolah
Layanan perpustakaan
sekolah diharapkan memiliki jenis layanan yang beragam yang dapat menarik minat
para siswa dan guru untuk memanfaatkan jasa layanan perpustakaan sekolah,
sehingga keberadaan akan perpustakaan dilingkungan sekolah itu bukan karena
wajib ada tetapi lebih karena dibutuhkan oleh para siswa dan guru. Adapun jenis
layanan yang dapat dikembangkan adalah sebagai berikut :
1. Layanan
Bimbingan Pemakai
Layanan bimbingan pemakai adalah layanan yang
memberikan informasi dan pengetahuan bagi pengguna khususnya anak-anak dalam
menggunakan layanan-layanan yang ada di perpustakaan, meliputi melakukan
penelusuran koleksi melalui catalog, melakukan penelusuran koleksi di rak buku,
memilih bahan bacaan yang sesuai, memberikan informasi tentang jenis-jenis
koleksi perpustakaan, dsb. Diharapkan dengan adanya layanan ini pengguna dapat
lebih menguasai dan memahami bagaimana cara menggunakan layanan perpustakaan
dan menelusur koleksi secara cepat, mudah dan efektif sejak masih anak-anak.
Selain itu bimbingan pemakai di berikan dengan tujuan agar pengguna lebih
mengenal fungsi dan manfaat perpustakaan sejak masih anak-anak sehingga ketika
dewasa pengguna masih menggunakan perpustakaan sebagai tempat pembelajaran
seumur hidupnya sehingga dapat mengetahui arti penting perpustakaan.
Ada dua bentuk layanan bimbingan pemakai yang dapat
diberikan oleh perpustakaan kepada pengguna (Qalyubi, 2003:235), yaitu :
a. Bimbingan secara langsung,
yaitu bimbingan yang diberikan melalui hubungan langsung antara petugas
perpustakaan dengan pengguna perpustakaan, baik yang bersifat individual formal
maupun yang bersifat klasikal formal.
b. Bimbingan tidak langsung,
yaitu bimbingan yang diberikan melalui media tertentu, misalnya dengan brosur,
pampflet, petunjuk penggunaan, dan terbitan lainnya.
Sedangkan dilihat dari aspek pelaksanaanny,
bimbingan kepada pengguna dalam lingkungan perpustakaan dapat dilakukan dengan dua sistem, yaitu
sebagai berikut :
a. Insidental,
yaitu bimbingan yang diberikan hanya sewaktu-waktu pada saat ada pertanyaan dan
tidak direncanakan sebelumnya.
b. Terencana,
yaitu bimbingan yang diberikan dengan perncanaan terprogram yang biasanya
dilakukan dan diselenggarakan secara periodik.
- Layanan Bimbingan Membaca
Layanan bimbingan membaca yaitu pemberian layanan
kepada pengguna perpustakaan khususnya bagi para siswa kelas 1 (satu) dengan
cara memberikan bimbingan membaca dan menulis. Hal ini dilakukan karena
perpustakaan sekolah erat kaitannya dengan masalah minat baca pada usia dini sehingga
mau tidak mau pustakawan harus dapat menjadi seorang guru yang baik bagi anak
yang memanfaatkan layanan ini.
Pelaksanaan layanan bimbingan membaca dapat
dilakukan secara langsung yang dilakukan oleh petugas dalam bentuk individual
formal maupun yang bersifat klasikal formal. Dalam bentuk individual formal
apabila pengguna datang ke perpustakaan dan meminta agar pustakawan membantunya
bagaimana cara membaca atau perpustakaan melakukan bimbingan yang bersifat
klasikal formal yang terencana yaitu kegiatan ini dilakukan pada hari-hari
tertentu dimana akan dibentuk secara klas-klas formal dengan pustakawan sebagai
pendidik atau dapat memanggil guru bantuan. Layanan ini akan lebih baik jika
pelaksanaan dilakukan secara teratur dan terencana dengan baik.
- Layanan Story Telling
Layanan mendongeng atau story telling ini biasanya
sangat digemari anak-anak terutama usia balita dan usia awal sekolah dasar.
Pada usia ini anak-anak memiliki rasa ingin tahu. Karena itu sangat tepat bila
pada usia ini diperkenalkan buku-buku yang sesuai dengan alam pikiran
anak-anak. Buku tersebut dapat dibacakan oleh pustakawan dengan cara seperti
mendongeng.
Pustakawan harus menggunakan koleksi dan alat peraga
yang ada di perpustakaan dalam mendongeng. Pembawa cerita harus mempunyai
pengetahuan tentang bacaan anak-anak yang akan disampaikan.
Selain pihak pustakawan yang memberi story telling
pihak perpustakaan dapat juga mengadakan lomba story telling bagi siswa-siswi
yang diadakan secara rutin, sehingga selain untuk meningkatkan minat baca dan
daya imajinai siswa kegiatan ini juga dapt melatih rasa percaya diri siswa
terhadap kemampuannya di hadapan banyak orang.
- Layanan Pemutaran Film
Perpustakaan sekolah dapat mengadakan kegiatan
pemutaran film secara rutin yaitu pada akhir pekan atau pada saat seteah ujian
sekolah untuk refreshing.
Perpustakaan sekolah dapat menginformasikan jadwal pemutaran film di
perpustakaan melalui mading sekolah atau bekerja sama dengan pihak sekolah
yaitu guru yang menginformasikan bahwa setelah ujian ada pemutaran film di
perpustakaan. Kegiatan tersebut termasuk dalam fungsi perpustakaan yaitu
sebagai sarana rekreatif, sehingga para siswa akan terbuka wawasannya bahwa
perpustakaan tidak hanya identik dengan buku.
Beberapa
jenis film dengan tema sejarah, flora dan fauna, alam, pengenalan tentang
negara, penemuan ilmiah dan ruang angkasa dapat menjadi pilihan untuk diputar.
Pustakawan juga dapat memutarkan film anak yang berjenis animasi dimana film
jenis ini sedang trend di kalangan anak-anak. salah satu contohnya adalah
dengan memutar film animasi avatar, dimana dalam film ini terdapat setting
tentang perpustakaan.
Pustakawan juga dapat memberikan kuis atau kegiatan
bercerita kembali mengenai film yang di putar agar para siswa lebih bersemangat
dan aktif dalam kegiatan ini.
- Mendatangkan Mobil Perpustakaan dan Kunjugan ke Perpustakaan Umum
Pustakawan
sekolah dapat bekerja sama dengan pihak Perpustakaan Provinsi atau Perpustakaan
Kota untuk mendatangkan Perpustakaan Keliling tau Mobil Pustaka ke Sekolah.
Tujuannya adalah agar para siswa mengenal tentang jenis perpustakaan dan
mendapatkan jenis bacaan yang berbeda dari biasanya serta untuk menghilangkan
kejenuhan akan kegiatan yang ada di perpustakaan.
Darmawisata
atau kunjungan ke Perpustakaan Umum atau Taman Bacaan di area taman kota juga
dapat dijadikan alternatif kegiatan lain untuk mengenalkan jenis perpustakaan
lain kepada para siswa. Hal tersebut mengajarkan bahwa perpustakaan tidak hanya
terdapat pada tempat yag formal seperti sekolah saja tetapi juga ada yang di
taman kota, di pusat kota, dsb.
Kedua
kegiatan tersebut dapat dilakukan ketika jumlah pengunjung perpustakaan menurun
dikarenakan siswa sudah mulai merasa jenuh dengan kegiatan indoor di
perpustakaan sekolah.
- Menyediakan Layanan Multimedia atau Digital
Era
teknologi informasi tidak hanya berpengaruh pada kehidupan orang dewasa saja
tetapi juga pada anak-anak tak terkecuali anak usia sekolah dasar (SD). Banyak
sekali anak usia dini yang sudah bisa dan terbiasa menggunakan teknologi
informasi dalam kehidupan sehari-hari termasuk penggunaan internet tetapi
mereka sangat minim pengetahuan akan fungsi dan manfaat dari teknologi
informasi tersebut.
Dengan Pihak perpustakaan sekolah yaitu
pustakawan dan petuga perpustakaan dapat memanfaatkan kondisi ini dalam bentuk
layanan yaitu penyediaan fasilitas komputer untuk layanan digital. Selain
penyediaan fasilitas tersebut, pustakawan berkewajiban untuk memberi bimbingan
dan pengetahuan akan fungsi dan manfaat internet secara baik dan benar, serta
tata cara penggunaan yang bijaksan bagi anak usia SD. Pustakawan juga dapat
menjelaskan sisi positif dan negatif dari penggunaan internet kepada para
siswa.
Selain
itu, pustakawan dapat memberikan berbagai fasilitas aplikasi program yang
bersifat edukatif dan rekreatif pada layanan digital dimana informasinya
disesuaikan dengan kurikulum yang ada.
- Pemberian Reward
Acara
pemberian reward ini dimaksudkan untuk mengapresiasi kecintaan para siswa akan
perpustakaan sekolah. Kategori pemberian reward ini dapat dikelompokkan seperti
pengunjung paling aktif, peminjam paling aktif, pengunjung paling tertib, dsb.
Kegiatan ini dapat dilakukan setahun sekali yang diadakan pada saat ulang tahun
perpustakaan atau peringatan hari berkunjung ke perpustakaan.
- Kordinator Mading Sekolah
Perpustakaan
sekolah selain sebagai pusat sumber belajar para siswa juga merupkan sumber
informasi dan pengetahuan di lingkungan sekolah. Berbagai jenis koleksi ada di
perpustakaan sekolah yang berisi segala informasi dan pengetahuan baik bersifat
edukatif, non edukatif dan populer sehingga semua informasi tersebut dapat di
repacking atau di kemas kembali dalam bentuk mading sekolah. Kegitan ini dapat
merangsang daya kreasi, menulis dan membca bagi para siswa ataupun guru.
Pihak
perpustakaan sekolah dapat menjadi kordinator yang bekerja sama dengan para
guru kelas, yaitu memberikan jadwal pada setiap kelas untuk mengisi mading
sekolah secara rutin misalnya mingguan, bulanan, dsb, dan pustakawan bertugas
untuk menentukan tema dan menyeleksi informasi yang akan dipasang di
mading.
- Selain kegiatan-kegiatan di atas yang langsung berhubungan dengan perpustakaan, layanan anak juga dapat melakukan kegiatan-kegiatan seperti pameran buku anak, lomba-lomba khusus anak seperti lomba menggambar, lomba bercerita, dsb. Kegiatan berdiskusi dengan penulis atau tokoh masyarakat. Selain itu, pustakawan dapat melakukan kegiatan berdarmawisata bersama para murid ke tempat-tempat bersejarah seperti museum.
DAFTAR
PUSTAKA
Bunanta, Murti. 2004. Buku, Mendongeng dan Minat Membaca. Jakarta
: Pustaka Tangga
Priyono, Agus. 2006. Perpustakaan Atraktif. Jakarta : Grasindo
Koswara, dkk. 1998. Dinamika
Informasi dalam Era Global. Bandung : Remaja Rosda Karya.
Qalyubi, Syihabuddin. 2003. Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi.
Yogyakarta : IAIN Sunan Kalijaga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar